Suvenir atau Charity

Suvenir kawinan apa yang sampai sekarang masih gw pake? Nggak ada.

Ketika lagi browsing, ketemu ide menarik untuk ‘mengganti’ suvenir pernikahan menjadi charity. Jadi budget untuk memberikan suvenir ini disumbangkan ke yayasan pilihan pengantin dan diumumkan ketika pesta. Menurut gw ini ide brilian. Tapi apakah orang lain akan setuju?

Wedding Announcement: Mungkinkan digunakan untuk Indonesia

Seorang mantan atasan pernah bilang: Tujuan utama dari resepsi pernikahan adalah mengumumkan pada orang lain bahwa sebuah pasangan sudah menikah, agar tidak terjadi fitnah nantinya.

Make sense. Dia sendiri pun ketika menikah hanya mengundang sebagian kecil kenalan sedangkan sisanya hanya diberitahu melalui mailing list. Yes, mailing list. Milist. Btw, saya juga tidak diundangnya. Fair enough, considering we only have been acquainted for less than 6 months 😀

Soooo, mengingat jumlah undangan gw yang sudah gw batasi hanya berjumlah 300 saja, sepertinya kebiasaan orang bule mengirimkan ‘wedding announcement’ card bisa ditiru. Yang jelas lebih elegan daripada sekedar pengumuman di milis 😀 meskipun nantinya sebagian kartu akan dikirim via milis juga sih hehehehe :p (dan facebook tentunya).

Image

yang gw gak tau, apakah bokap nyokap akan setuju dengan ide ini dan mungkin mau juga mengirimkan wedding announcement card kepada keluarga dan kenalan yang tidak terundang gara-gara anaknya kere. bayangkan skenario ini, si mamih mengirimkan wedding announcement card kepada salah seorang kawan lamanya dan telepon berdering dan terdengar jeritan di ujung sana: “saya kok nggak diundang sih jeeeeuuuuunnngg!”

-_-‘

jadi mendingan kirim apa jangan?

Review: Gedung Pernikahan PTIK

Harga sewa gedung ini untuk tahun 2013 adalah: 25 juta rupiah saja, dengan minimum order catering untuk 1000 orang.

Ok jadi hari ini gw sukses mencoret venue yang satu ini. Gw mau membatasi undangan sebanyak 300 undangan saja (600 orang). What a waste of time, harusnya gw cukup nanya ini di telepon aja. Note for next time: telepon dan tanya dulu persyaratan ‘minimum order’.

Tapi buat yang berniat mengadakan pesta dengan undangan banyak, gedung ini ok. Tampilan luar sangat representatif. Parkir kayaknya cukup. Kalaupun enggak, di luar gedung masih bisa parkir pinggir jalan nggak masalah. Taksi pun cukup banyak yang mangkal istirahat di situ.

Hallnya berbentuk setengah lingkaran, dan dari pintu langsung terlihat panggungnya. Ceilingnya tinggi. Bagus dan megah. Lantainya tidak berkarpet sih.

Image

Image

Salesnya meskipun ramah tapi cukup cuek kayak nggak butuh gitu :)) Fair enough secara gedungnya laku neek. Kalau mau ke sana langsung, kantor pengurusnya terbuka kok, dan cukup mudah ditemukan. Masuk aja ke foyer aulanya, lalu masuk ke lorong sebelah kanan. Di situ lah si kantornya berada.

So, begitulah. Gw harus hunting lagi sepertinya.

sebelum venue: jumlah undangan

obviously.

saya sering mendengar 500 undangan adalah wajar untuk ukuran kalangan menengah di jakarta.

buset!

harus diingat, 500 undangan berarti tamunya 1000, berarti makanannya harus buat 1000 orang dan gedungnya harus muat 1000 orang. but yeah, membayangkan saudara-saudara, kerabat-kerabat, dan teman-teman orang tua saya, i can totally see how it came to 500 undangan.

but!

karena saya kere, akhirnya dengan tegas saya menyatakan: 300 undangan. tak lebih. masing-masing ortu dapet jatah 100, dan sisanya untuk teman-teman kami berdua. kalau ada yang mau undang lebih dari itu, silakan membayari catering dan lain-lain sebagai tambahannya.

nggak bisa enggak, caranya harus kayak gitu. kalau enggak, bisa bengkak jumlah undangan. dan saya mau strict mengenai ini. tidak ada undangan melalui facebook. semua undangan harus dialamatkan secara personal, baik printed maupun elektronik. kalau elektronik, melalui e-mail.

nah sekarang kalau itu sudah diputuskan, next to do list adalah

– mencari gedung dengan kapasitas yang sesuai dengan lokasi yang oke (ini bisa dibahas panjang lagi nanti)

– draw up budget sesuai dengan jumlah itu dan mulai menabung or berhutang! pait dah ah…..

satu: menentukan tema

pilihlah tema yang the least painful. to you and your guests.

buat saya ide duduk di pelaminan, dipajang dan disalami ratusan tamu (baik kenal maupun tidak kenal) adalah bodoh. yang tidak kenal akan disalami setengah hati, yang kenal mau nggak mau akan disalami setengah hati juga karena harus menyalami tamu lain yang sudah ngantri. saya menolak ide pelaminan. i actually want to interact with my guests and my friends, and i think my parents would want it as well.  jadi tema pertama yang muncul di otak saya adalah pesta kebun yang santai. akan tetapi akhirnya ide pesta kebun dibatalkan karena tiga hal: kapasitas venue kebun yang kebanyakan kecil – terlalu kecil untuk tamu-tamu kami -, lokasi yang kebanyakan tidak berada di tengah kota, juga cuaca yang panas membuat tamu menderita (baik malam maupun siang). beberapa pesta kebun yang saya datangi selalu suasananya tidak nyaman karena panas.

so, demi kepraktisan dan kenyamanan, akhirnya pilihan jatuh pada gedung pernikahan standar seperti pesta pernikahan pada umumnya. but hey, let’s see if we can make it something more than that 🙂

sempat kepikiran juga untuk membuat pesta di luar kota. tapi akhirnya nggak tega dengan anggota keluarga yang sudah sepuh dan juga biaya yang harus dikeluarkan untuk perjalanan!

so yeah, gedung. mari kita mulai persaingan sengit mem-book gedung pernikahan di jakarta!

why?

saya bukan orang yang romantis, singkatnya: saya bukan crowd ‘twilight’ 🙂 – no offense.

otomatis, event pernikahan tidak pernah diromantisasi dalam otak saya. cita-cita saya dan pasangan: pergi ke KUA sama orang tua, terus selesai.

yeah, dream on girl! you are in Indonesia.

bukan apa-apa. hajatan kawinan itu biayanya besar. dan kedua orang tua saya sudah tidak punya penghasilan lagi dan tidak punya tabungan hari tua. untuk sehari-hari saja bergantung sama anak-anaknya. tapi demi gengsi, pesta kawinan untuk saya harus terjadi. so, here i am planning a wedding party with zero money to begin.

being an anti-romance person, kenapa saya membuat blog ini? karena desk research adalah salah satu alat utama untuk mulai melaksanakan perencanaan pesta pernikahan itu. dan terima kasih pada blog-blog para pasangan romantis di luar sana, yang berbaik hati merekam semua proses persiapan mereka dan membaginya pada publik, banyak hal yang dapat saya ketahui tanpa harus kemana-mana. so i thought, saya berhutang untuk juga men-share proses persiapan saya, yang siapa tahu juga bisa membantu pasangan-pasangan lain di luar sana, yang romantis maupun yang bengis, untuk juga mempersiapkan acara mereka. so here it is. let’s begin